Tidak Sempurna 4 Perkara Kecuali 4 Hal Menyertainya
Oleh Sholihin HZ*
(Kepala MAN 1 Pontianak, Sekum PW IPIM Kalimantan Barat)
Dalam kehidupan ini, manusia sering terjebak pada perasaan telah “cukup”. Cukup beragama, cukup berkata baik, cukup berilmu, dan cukup terhormat di hadapan manusia. Padahal, Islam mengajarkan satu kaidah penting: banyak hal tidak pernah benar-benar sempurna kecuali jika disertai dengan unsur pendamping yang menghidupkannya. Tanpa pendamping itu, semua hanya menjadi bentuk tanpa ruh atau nama tanpa makna.
Setidaknya ada empat hal besar dalam hidup yang tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya kecuali dengan sesuatu yang menyertainya. Keadaannya dianggap ada manakala disertai dengan keadaan berikutnya. Tulisan ini mengajak pembaca untuk tidak sekedar ada tapi membuat apa yang ada menjadi ’berada’ dalam arti bernilai.
Pertama, tidak sempurna agama kecuali dengan takwa
Agama bukan sekadar identitas, bukan pula sekadar rutinitas ibadah lahiriah. Agama mencapai kesempurnaannya ketika ia melahirkan takwa. Takwa adalah kesadaran batin yang membuat seseorang berhati-hati terhadap murka Allah dan rindu terhadap ridha-Nya. Banyak orang rajin beribadah, tetapi masih ringan menzalimi, mudah meremehkan dosa, dan berat menjaga amanah. Di sinilah kita belajar bahwa agama tanpa takwa hanya menjadi gerakan fisik, bukan kekuatan moral.
Takwa menjadikan shalat melahirkan kejujuran, puasa menumbuhkan empati, dan ibadah melahirkan akhlak. Tanpa takwa, agama mudah menjadi hiasan luar yang indah, namun rapuh di dalam.
Kedua, tidak sempurna perkataan kecuali dengan wujud adanya perbuatan yang didasari ilmu
Islam adalah agama kejujuran antara lisan dan tindakan. Perkataan yang baik adalah anugerah, tetapi ia belum sempurna jika tidak dibenarkan oleh perbuatan. Betapa banyak nasihat yang terdengar indah, namun gugur nilainya karena tidak diamalkan oleh pengucapnya sendiri. Dalam pandangan Allah, kontradiksi antara ucapan dan perbuatan adalah perkara besar yang dibenci.
Perbuatan adalah bukti kejujuran kata-kata. Ketika seseorang berkata tentang kebaikan, lalu ia sendiri berjalan di jalannya, maka perkataannya hidup. Sebaliknya, kata-kata tanpa perbuatan hanya akan menjadi beban moral bagi diri sendiri dan kehilangan wibawa di hadapan manusia. Rasulullah SAW adalah prototipe manusia ideal dimana satunya kata dan perbuatan sehingga disebutkan akhlak beliau adalah al Quran.
Ketiga, tidak sempurna marwah diri kecuali disertai ketawadhuan
Marwah diri sering disalahpahami sebagai gengsi, harga diri, atau kehormatan sosial. Padahal, marwah sejati justru lahir dari kerendahan hati. Tawadhu’ bukan merendahkan diri, melainkan menempatkan diri secara proporsional. Ia tahu kelebihan dirinya tanpa merasa lebih, dan mengenali kekurangan tanpa merasa hina.
Orang yang menjaga marwah dengan kesombongan justru sedang meruntuhkan kehormatannya secara perlahan. Sebaliknya, orang yang tawadhu’ akan dihormati tanpa meminta, dimuliakan tanpa menuntut. Ketawadhuan adalah pakaian batin yang membuat marwah tampak bersinar tanpa dipamerkan.
Keempat, tidak sempurna ilmu melainkan kala ia diamalkan
Ilmu dalam Islam bukan untuk kebanggaan intelektual, tetapi untuk membimbing amal. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat lampu yang tidak menerangi. Bahkan, ilmu semacam ini bisa menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya kelak. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tanggung jawab pengamalannya.
Ilmu menjadi cahaya ketika ia menuntun perilaku, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. Tanpa amal, ilmu hanya tinggal arsip di kepala, bukan petunjuk bagi hati dan langkah.
Empat perkara ini mengajarkan kita bahwa kesempurnaan dalam Islam bukan soal banyaknya, melainkan keselarasan. Agama dengan takwa, kata dengan perbuatan, marwah dengan tawadhu’, dan ilmu dengan amal. Di sanalah kehidupan menjadi utuh, bernilai, dan diridhai Allah. Firman Allah SWT menyinggung sekaligus menuntun kita untuk menjadikan hidup sebagai media berbuat baik dengan kualitas paripurna (ahsanu ’amalan). Semoga.



Komentar
Posting Komentar